Seberapa Pentingkah Peran Keluarga dalam Proses Sosialisasi?

Pada hakikatnya sebagai makhluk sosial, manusia adalah makhluk yang berhubungan secara timbal-balik dengan satu sama lain. Satu-satunya cara agar bisa mendapatkan timbal-balik dengan individu lain adalah dengan bersosialisasi. Lingkungan sosialisasi setiap individu dimulai dari yang paling kecil yaitu keluarga. Lalu, seperti apa peran keluarga dalam proses sosialisasi?

Sebelum masuk ke peranan keluarga, ada baiknya teman kecil mengerti terlebih dahulu apa makna sosialisasi sesungguhnya. Sosialisasi merupakan sarana pengenalan, pengakuan, dan penyesuaian diri terhadap nilai-nilai, norma, dan struktur sosial yang berlaku di masyarakat.

Baca juga:

Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi secara umum merupakan suatu proses dimana satu individu dengan individu lainnya saling bertukar informasi baik dalam hal pengetahuan, nilai, sikap, dan perilaku esensial untuk berpartisipasi di dalam masyarakat. Intinya, sosialisasi merupakan proses pembelajaran dimana satu individu mendapatkan sesuatu yang baru dari individu lainnya.

Sosialisasi ialah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan tentang nilai dan norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota kelompok masyarakat.

David Gaslin

Fungsi Sosialisasi dan Peran Keluarga dalam Proses Sosialisasi

Sosilisasi sendiri memiliki beberapa fungsi penting seperti:

  • Membantu mengenalkan individu pada lingkungan disekitarnya
  • Membuat individu menjadi lebih mudah bergaul dan mendapatkan teman
  • Dapat meningkatkan kualitas mental seseorang
  • Membantu proses bermasyarakat seperti untuk saling bekerja sama dan bergotong royong

Sosialiasi merupakan faktor penting dalam pembentukan kepribadian seseorang yang menjadikan hal ini sebagai pembelajaran seumur hidup. Maka dari itu, jika ada seorang individu yang kurang bersosialisasi dengan lingkungannya, akan menyebabkan individu tersebut sulit untuk menyesuaikan diri dalam bermasyarakat.

Jenis Sosialisasi

Sosialisasi sendiri memiliki 2 jenis, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder:

  • Sosialisasi Primer

Merupakan proses sosialisasi pertama yang dialami oleh setiap individu. Jenis sosialisasi ini merupakan gerbang pertama dalam memasuki keanggotaan lembaga masyarakat. Lembaga masyarakat dalam hal ini adalah keluarga.

  • Sosialisasi Sekunder

Merupakan proses sosialisasi lanjutan dari sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke lembaga masyarakat lain selain keluarga seperti sekolah, teman sepermainan, serta kelompok masyarakat lainnya.

Agen Sosialisasi dan Peran Keluarga dalam Proses Sosialisasi

Agen sosialisasi merupakan pihak-pihak yang menjalankan proses sosialisasi. Agen sosialisasi sendiri terbagi menjadi empat, yaitu:

  1. Keluarga

Keluarga merupakan agen sosialisasi utama yang mendidik dan mempersiapkan individu agar dapat diterima sebagai anggota masyarakat. Keluarga juga merupakan perantara pertama dalam mengenalkan kebudayaan masyarakat kepada individu

2. Teman Sepermainan

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia individu, peran keluarga sebagai agen sosialisasi utama dapat tergantikan dengan peran teman sepermainan. Melalui kelompok teman sepermainan, individu akan mulai belajar hidup bersosialisasi. Untuk diterima menjadi anggota kelompok pertemanan, individu harus memahami aturan yang berlaku. Teman sepermainan dapat mempengaruhi tindakan sosial individu yang mengarah pada hal positif, akan tetapi juga ada yang mengarah pada hal negatif.

3. Sekolah

Sekolah merupakan lembaga atau institusi yang melaksanakan sistem pendidikan formal. Sekolah berperan besar dalam membantu individu untuk mengenal serta mengembangkan kemampuan dan bakatnya. Di sekolah, individu akan mempelajari hal-hal baru yang tidak didapat dari keluarga maupun teman sepermainan. Sekolah juga memiliki norma berupa tata tertib yang akan memaksa murid-muridnya bertindak sesuai aturan yang berlaku untuk menjalankan perannya sebagai murid beserta hak dan kewajibannya. Dalam hal ini, guru memiliki peran penting dalam proses sosialisasi yang terjadi di sekolah.

4. Media Massa

Media massa memiliki dua jenis yaitu media cetak dan media elektronik. Saat ini media elektronik sedang mengalami perkembangan yang pesat, sehingga sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian individu. Perkembangan ini dapat memudahkan para individu untuk menerima informasi sehingga dapat mempengaruhi proses bersosialisasi mereka. Meskipun demikian, tidak semua hal yang disajikan pada media elektronik mampu memberikan kontribusi positif terhadap perilaku individu melainkan juga dapat membawa dampak negatif. Maka dari itu, perlu pengawasan ketat terhadap penggunaan media elektronik ini.

Gimana? Teman kecil sudah mengerti kan tentang seluk beluk proses sosialisasi? Nah, untuk selanjutnya, Mila akan lebih berfokus untuk membahas sosialisasi primer dan salah satu agen sosialisasi yaitu keluarga. Agar teman kecil dapat mengetahui seberapa berpengaruh peran keluarga dalam proses sosialisasi.

Seperti Apa Peran Keluarga dalam Proses Sosialisasi?

peran keluarga dalam proses sosialsiasi 2
Photo by CDC on Unsplash

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa anggota dibawahnya. Keluarga merupakan agen sosialisasi utama yang mendidik dan mempersiapkan individu agar dapat diterima sebagai anggota masyarakat. Peran keluarga menjadi sangat krusial pada proses sosialisasi karena, seorang individu mendapatkan referensi pertama bagiaman cara bersosialisasi yang benar adalah melalui interaksi antar anggota keluarga.

Proses sosialisasi dalam lingkungan keluarga dimulai dari seorang anak yang mulai melakukan sosialisasi dengan cara berinteraksi dengan ayah, ibu, dan juga saudaranya. Melalui proses sosialisasi ini, seorang anak akan mendapatkan hal baru yang belum dikenalnya yang nantinya akan menjadi pondasi untuk bersosialisasi dengan lingkungan disekitarnya. Sosialisasi dalam keluarga ini berperan sangat penting dalam pembentukan kepribadian si anak.

Di dalam suatu keluarga, terdapat dua pola sosialisasi yang dapat menjadi penentu perkembangan anak kedepannya, yaitu:

Sosialisasi Represif

Pada pola ini, jenis sosialisasi yang digunakan lebih menekankan penggunaan hukuman, apabila terjadi sesuatu yang dirasa tidak sesuai dengan nilai dan norma yang dibangun dalam suatu keluarga. Tujuan dari sosialisasi represif adalah memberikan efek jera, agar seorang anak menjadi lebih disiplin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Contohnya, jika seorang anak memiliki rapor dengan nilai yang buruk, maka orang tua akan memberikan hukuman berupa pengurangan uang jajan atau larangan untuk keluar rumah. Maka dari itu, sang anak akan berusaha untuk belajar semaksimal mungkin agar mendapatkan nilai yang bagus agar terhindar dari hukuman orang tua.

Sosialisasi represif akan menyebabkan adanya dominasi dari orang tua dalam interaksi pola asuh. Hal ini membuat komunikasi yang tercipta dalam keluarga cenderung menjadi satu arah antara orang tua – anak. Akibat dari sosialisasi represif ini dapat menyebabkan anak menjadi sulit untuk mengungkapkan pendapat pribadinya. Karena dituntut untuk selalu mengikuti aturan yang telah dibuat oleh orang tua.

Sosialisasi Partisipatif

Sosialisasi partisipatif adalah proses sosialisasi yang bertolak belakang dari sosialisasi represif. Pada pola ini, proses sosialisasi dilakukan dengan cara menanamkan nilai dan norma melalui kebiasaan tanpa adanya paksaan dan kekerasan dalam pelaksanaannya.

Sosialisasi partisipatif memiliki ciri-ciri berupa tidak adanya dominasi orang tua dalam interaksi pola asuh. Orang tua justru melibatkan anak sebagai pusat dari proses sosialisasi. Sehingga, dapat terjalinnya komunikasi dua arah antara orang tua – anak. Dampak dari pola sosialisasi ini membuat anak menjadi lebih terlatih dalam mengungkapkan pendapatnya. Hubungan komunikasi antara orang tua dan anak pun bisa menjadi semakin intens.

Berdasarkan pola yang sudah dijelaskan diatas, proses sosialisasi dalam keluarga memiliki pengaruh penting terhadap pembentukan kepribadian seorang individu. Individu yang dibesarkan melalui pola sosialisasi partisipatif, pasti akan lebih mudah mengemukakan isi hatinya, sehingga individu tersebut akan lebih mudah bergaul dan lebih mudah untuk mendapatkan teman.

Sebaliknya, individu yang dibesarkan melalui pola represif cenderung sulit untuk bergaul karena memiliki kesulitan dalam mengemukakan pendapatnya. Karena, di dalam keluarga pendapatnya jarang di dengar. Sehingga, individu tersebut tidak tahu cara mengungkapkan pendapat yang baik dan benar seperti apa. Akan tetapi, terdapat dampak baik apabila seorang individu dibesarkan melalu pola sosialisasi represif. Individu tersebut akan lebih disiplin dan taat akan aturan karena sudah terbiasa dididik seperti itu di dalam keluarganya.

Namun, bentuk kepribadian yang sudah tertanam akibat pola sosialisasi yang dilakukan di dalam keluarga bukan berarti tidak dapat dirubah. Seiring berjalannya waktu, peran keluarga sebagai agen sosialisasi utama dapat tergantikan dengan teman sepermainan. Ketika individu sudah mulai beranjak dewasa, maka individu tersebut akan mulai berinteraksi dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya

Nah, teman kecil sudah paham kan seberapa berpengaruh peran keluarga dalam proses sosialisasi seorang individu dalam bermasyarakat? Kalau sudah, jangan lupa baca artikel Mila yang lainnya ya seperti 5 Alasan Mengapa Menjadi Yes Man Adalah Hal yang Tidak Baik


Kunjungi juga artikel menarik yang telah disiapkan oleh rekan-rekan kami:

  1. Kenali 8 Ciri Ciri Pacar Toxic, Apakah Si Doi Termasuk?
  2. Sudah Tau Belum Kalo Hobi Berkebun Dapat Menghasilkan Uang?
  3. Kecerdasan Emosional dan Kualitas Hubungan Percintaan
banner social media

Leave a Reply