Penyebab Kecanduan Media Sosial dan Cara Mengatasinya

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media sosial sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Hal ini menimbulkan semakin banyaknya orang yang memiliki kecanduan media sosial. Seperti yang dilansir oleh We Are Social, lebih dari 50% populasi di dunia merupakan pengguna aktif media sosial. Memang sejak awal media sosial dirancang untuk membuat penggunanya kecanduan. Kebutuhan kita akan pengakuan  media sosial telah menciptakan keterikatan kita kepada medsos secara luar biasa. Keterikatan ini secara tidak sadar menyebabkan kita terlalu nyaman dalam persona medsos kita. Seringkali persona yang dimunculkan adalah persona yang dibuat-buat atau tidak menggambarkan diri kita sendiri, agar diri kita terlihat relate dengan perkembangan zaman ini.

Pada saat ini, kita menggunakan media sosial karena adanya satu harapan besar, yaitu siapatau orang lain akan menyukai unggahan kita. Entah mengapa, hal ini memberikan kepuasan tersendiri apabila unggahan kita disukai oleh banyak orang. Hal ini dimanfaatkan oleh pelaku bisnis di media sosial, Attention Economy” istilahnya. Mungkin terminologi ini belum familiar didalam percakapan sehari-hari. Intinya, hal ini merupakan pendekatan tentang pengelolaan informasi yang memperlakukan perhatian manusia sebagai komoditas langka dan menerapkan teori ekonomi untuk memecahkan berbagai masalah pengelolaan informasi. Hal ini sebenarnya sudah sering kita alami dalam aktivitas kita berselancar di Internet. Model bisnisnya sangat sederhana, semakin banyak perhatian yang diterima sebuah platform, maka semakin efektif ruang iklan yang mereka miliki.

Apa yang Menyebabkan Kita Kecanduan Media Sosial?

Mari kita mundur sejenak untuk melihat kembali bagaimana media sosial dapat menimbulkan kecanduan pada penggunanya. Semua bermula semenjak kemunculan like button pada platform media sosial. Pada tahun 2005, like button pertama kali diciptakan oleh Andrew Pile dan kawan-kawannya untuk Vimeo. Fungsi like button pada awalnya hanyalah untuk memasukkan video ke daftar favorit. Lalu, semua berubah semenjak Facebook memperkenalkan like button. Media sosial lain pun mulai beralih dan menggunakan like button juga. Youtube beralih ke format like/dislike pada tahun 2010 yang tadinya menggunakan rating bintang dari 1-5. Di tahun yang sama pula, Instagram juga menambahkan fitur serupa dengan logo hati berwarna merah.

Like button sebenarnya memiliki konsep yang sederhana, dimana pengguna dapat mengekspresikan seperti apa jenis konten yang mereka suka. Tetapi hal tersebut juga berlaku dua arah, pengguna yang mengunggah konten tersebut juga memiliki kebutuhan akan feedback sosial. Berangkat dari konsep dasar ini, makin kesini jumlah likes melambangkan peningkatan reputasi. Menyebabkan para penggunanya semakin haus akan feedback sosial ini. 

Mengutip dari merdeka.com, platform media sosial dirancang untuk menarik perhatian, membuat pengguna tetap online, dan membujuk pengguna agar berulang kali memeriksa layar dengan notifikasi-notifikasinya. Hal ini jika dibiarkan terus-menerus dapat berdampak terhadap kesehatan mental. Karena pada akhirnya, pengguna menjadi tidak pernah puas dan akan terus membanding-bandingkan unggahannya dengan milik orang lain. Situasi ini dapat menyebabkan pengguna memiliki standar penilaian melalui media sosial yang semu.

Salah satu pencipta like button di Facebook Justin Rosenstein pun mengakui bahwa kebanyakan push notification adalah distraksi yang akan menjadi pengganggu. Hal ini memaksa kita mengeluarkan ponsel dan tersesat dalam informasi remeh temeh dunia maya yang sebenarnya tidak penting sama sekali. Namun siapa sangka, informasi remeh ini dapat membuat kita menghabiskan waktu rata-rata selama 2 jam per harinya dalam berselancar di media sosial.

Seperti Apa Dampak Negatif Kecanduan Media Sosial?

Kesehatan mental sangat dipertaruhkan didalam media sosial. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health and the Young Health Movement, kecanduan media sosial dapat menyebabkan berkurangnya kualitas dan kuantitas jam tidur, merasa kesepian, cyberbullying, fear of missing out (FOMO), anxiety, dan depresi.

1. Berkurangnya Kualitas dan Kuantitas Jam Tidur

Tanpa disadari, sebelum kita memutuskan untuk tertidur. Pasti kita akan mengecek media sosial terlebih dahulu melalui gadget yang kita miliki. Hal ini ternyata dapat mengurangi kualitas dan kuantitas tidur kita. Karena, gadget yang kita miliki ini memancarkan cahaya biru yang dapat menghambat produksi hormon melatonin di dalam tubuh. Melatonin sendiri adalah zat alami tubuh yang dapat membantu kita untuk tertidur. Sehingga, penurunan hormon melatonin ini dapat menyebabkan kita menjadi sulit tertidur hingga mengalami insomnia.

2. Merasa Kesepian

Dengan menggunakan media sosial, mungkin kita akan merasa terhubung dengan banyak orang. Karena kita dapat melihat aktivitas mereka di dunia maya secara real time. Tapi menurut survei yang dilakukan oleh The Cigna Health Insurance Company, 46% responden menyatakan bahwa mereka seringkali merasa kesepian, padahal mereka aktif menggunakan media sosial. Mengapa demikian? Karena dengan adanya media sosial, secara tidak langsung membuat kita jadi jarang melakukan interaksi secara langsung dengan orang lain. Kita jadi terbiasa untuk get in touch sekedar melalu media sosial saja. Padahal sebagai makhluk sosial, manusia sangat membutuhkan interaksi secara langsung dengan individu ataupun kelompok lainnya.

3. Cyberbullying

Cyberbullying adalah bullying/perundungan menggunakan media sosial sebagai alat utama untuk melecehkan, mengancam, dan mempermalukan orang lain. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya kontrol pada media sosial dan mudahnya akses bagi semua orang untuk mengungkapakan pendapatnya di media sosial. Dengan menggunakan media sosial, seseorang dapat menyamarkan identitasnya. Sehingga, mereka merasa bebas untuk berkomentar tentang apapun karena merasa tidak ada yang mengetahui identitas aslinya atau biasa disebut anonymous.

4. Fear Of Missing Out (FOMO)

Merupakan fenomena dimana kita merasa takut akan melewatkan informasi-informasi baru atau hal yang sedang viral atau menjadi tren di media sosial. FOMO dapat menyebabkan pengguna akan mengecek device-nya secara terus-menerus untuk melihat apakah ada update terbaru, atau untuk merespon semua notifikasi yang bermunculan. Bahkan jika hal tersebut memiliki resiko seperti pada saat mengemudi, mengorbankan jam tidur, atau bahkan pengguna akan memprioritaskan interaksi di media sosial dibandingkan di dunia nyata.

5. Anxiety

Mengutip dari jurnal yang diterbitkan oleh Computers and Human Behaviour, bahwa orang yang dilaporkan menggunakan tujuh atau lebih platform media sosial, tiga kali lebih berkemungkinan mengalami gejala kecemasan. Salah satu contohnya, kecemasan dapat timbul karena manusia memiliki sifat yang kompetitif. Pengguna media sosial cenderung akan menjadi gelisah jika konten unggahannya tidak mendapatkan banyak likes seperti konten yang diunggah oleh orang lain. Kecemasan juga dapat timbul karena kita terlalu overthinking terhadap konten yang kita unggah, apakah akan menimbulkan feedback yang positif atau negatif.

6. Depresi

Depresi yang timbul akibat media sosial disebabkan oleh kualitas interaksi online. Pengguna yang memiliki lebih banyak interaksi negatif, cenderung memiliki tingkat gejala depresi yang lebih tinggi. Alasan penyebab depresi ini termasuk diantaranya adalah cyberbullying, memiliki sudut pandang yang berbeda dari orang lain, dan merasa pemborosan waktu yang dihabiskan untuk berselancar di media sosial.

Adakah Dampak Positif Media Sosial?

Tentu saja ada. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media sosial memiliki cukup banyak dampak positif. Seperti menjadi media hiburan, mempermudah masuknya akses informasi, dan untuk menjalin silaturahmi. Akan tetapi, hal tersebut bukan menjadi alasan bahwa kita dapat menggunakan media sosial secara terus menerus. Tetap harus ada batasan-batasan tertentu agar dampak positif media sosial ini tidak menjadi dampak negatif yang sudah Mila bahas barusan.

Bagaimana Cara Mengatasi Kecanduan Media Sosial?

Kalian tidak perlu khawatir jika kalian merasa sudah memiliki ketergantungan terhadap media sosial. Mila memiliki beberapa cara agar kalian dapat mengurangi ketergantungan kalian tersebut.

1. Matikan Push Notification agar Terhindar dari Kecanduan Media Sosial

Walaupun terbilang cukup ekstrim. Tapi cara ini merupakan cara yang cukup ampuh agar kalian tidak terdistraksi oleh notifikasi media sosial yang dapat mengganggu aktivitas kalian sehari-hari.

2. Jalin Interaksi Offline

Cobalah untuk menjalin interaksi secara langsung baik dengan keluarga, teman, ataupun pasangan tanpa adanya gangguan dari gadget. Fokuskanlah diri kalian pada orang-orang disekitar kalian. Sehingga interaksi yang terjalin pun akan terasa lebih berkualitas.

3. Perbanyak Kegiatan di Dunia Nyata Sebagai Salah Satu Cara agar Tidak Kecanduan Media Sosial

Hal ini dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan mencari hobi baru yang membutuhkan aktivitas diluar ruangan. Bahkan ada banyak loh hobi yang bisa diuangkan juga. Lebih bermanfaat kan daripada sekedar scrolling feeds aja?

4. Selalu Batasi Penggunaannya

Mila tidak melarang kalian untuk menggunakan media sosial. Tetapi, akan lebih baik jika kalian memiliki batasan tertentu. Mungkin kalian bisa mencoba menggunakan timer atau alarm yang mengingatkan kalian sudah berapa lama kalian menggunakan media sosial. Hal ini cukup efektif untuk mengurangi kecanduan kalian terhadap media sosial.

Itulah penjelasan yang dapat Mila sampaikan mengenai kecanduan media sosial, dampak positif dan negatif, serta cara mengatasinya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat ya teman kecil! dan baca juga ya artikel-artikel Mila yang lain seperti Kata Sederhana Penuh Makna Yang Sering Dilupakan.

banner social media

One comment

  1. […] Baca juga: Kecanduan Media Sosial: Mendekatkan yang Jauh atau Menjauhkan yang Dekat? […]

Leave a Reply